Gowesku

Komunitas Sepedaku

Gowes yang Smart di Kala New Normal Seperti Apa?

Wabah Corona bukan berarti orang jadi nggak bisa berolahraga, kita masih bisa berolahraga namun tetap mengikuti protokol kesehatan agar kita terhindar dari virus itu.

dr Aristi Madjid, seorang dokter yang suka gowes berbagi cara gowes yang “SMART” di kala pandemi virus Corona ini. SMART sendiri merupakan singkatan dari Solo Riding, Masker, Arm Protection, Rute dan yang terakhir Timing atau pemilihan waktu. Udah bener ya singkatannya? nggak ada yang kurang kan? SMART.

Kita bahas satu per satu

1. S atau Solo Riding/Small Riding

Usahakan bersepeda jangan rame-rame dlu, maksimal 2-5 orang. Menurut penelitian, di beberapa bagian mereka tidak boleh keluar rumah jika tidak dengan serumah, ada pula di negara lain yang coronanya sudah 0 mereka sudah memberikan keleluasan kepada pesepada ada yang 6 orang, tapi jarang, rata-rata 2-5 orang

“Jadi small group, budaya bersepeda di Indonesia adalah untuk guyub/kumpul-kumpul bukan untuk olahraga murni, ini bagus sebenarnya, tapi saat seperti ini seharusnya yang kumpul-kumpul kita stop dulu, jadi kita gowes 2-5 orang, jarak 2-4 meter direkomendasikan dengan zigzag, (karena droplet atau curahan ludah itu bisa sampai kalau diam itu 2 meter,” ujarnya saat webinar asik B3J (Bincang Bareng Bang @drjackpradono) tanggal 6 Juni lalu.

 

Gowes SMART di era new normal (sumber dr Aristi Madjid)

Melihat foto di atas, saat gowes bareng teman, tidak disarankan berada dalam satu garis, tapi zig-zag ya. Jadi seperti B atau C yang zigzag.

“Karena kalau makin cepet si gowes makin cepet droplet kebawa ke belakang, COVID ini tidak airborne tapi droplet, jadi intinya bagaimana menghindari droplet. Jadi kalau kita keluar anggap kita ini OTG (orang tanpa gejala) dan orang lain juga OTG, jadi mencegah kita tertular dan mencegah orang lain tertular.

– Hindari Wefie

Saat kita gowes rame, pasti kita wefie, pasti maskernya dibuka dong, sebelah kita atas bawah semua ketawa, nah yang harus diingat adalah droplet ini untuk hembusan aja bisa 1,5 meter, kl batuk 2 meter bersin kecepatannya 100 km per jam.

Ilustrasi penyebaran droplet atau cairan ludah

“Buat gowes rombongan atau foto rame-rame dihindari dulu dah, karena keadaan kita belum aman, dan mungkin bakal terus begini, tidak akan bisa normal lagi,” sarannya.

2. MASKER

Penggunaan Masker pas gowes

Karena ini lagi masa wabah, penggunaan masker tetap wajib. Jika gowes di kawasan perkotaan sebaiknya tetap memakai masker.

“Kalau ngap turunin kecepatan gowesnya, bukan turunin maskernya,” ujarnya.

Kebayang kan gimana kalau di jalan lagi berhenti ada pemotor atau pesepeda lain yang OTG tiba-tiba ngeludah sembarangan. “Terus tu ludah ada yang ciprat-ciprat ke muka kita, biarpun cuma beberapa ceprotan saja dan kita nggak pakai masker males banget ya hehehe,” ujarnya. Aduh jijik banget dok…hehehe

Dalam kondisi nggak pakai masker, sebaiknya saat gowes sendirian, gowesnya nggak crowded.

“Nah kalau kita gowes di tempat sepi, nanjak-nanjak, ya gak perlu maskeran dong, COVID menular lewat droplet bukan airborn, mau foto-foto ketawa, sapi liwat ya juga amaan,” ujarnya.

Mereka yang memiliki riwayat jantung, paru-paru baiknya sebelum berolahraga berkonsultasi pada dokter.

Dan buat mereka yang gowesnya ngebut atau olahraga serius menggunakan masker tidak direkomedasikan. “Karena penggunaan masker ini mempengaruhi asupan oksigen, saat olahraga butuh oksigen yang lebih banyak saat speednya tinggi,” ujarnya.

“Jadi memang yang pakai masker ini adalah sepeda yang bukan sport, seperti bike to work, gowes kuliner,” ujarnya.

Goggle juga disarankan untuk melindungi mata. “Karena entry dari virus ini mukosa mata hidung dan mulut jadi harus kita lindungi, paling mendingan adalah masker kain masker 2 lapis sudah cukup, kalau 3 itu buat yang mau flu atau batuk,” ujarnya.

Masker kain disarankan buat gowes, masker bedah dan N95 No, karena bakal sesak banget…

 

3. ARM PROTECTION

Gowes pakai lengan panjang

Jangan lupa saat gowes pakai baju yang punya lengan panjang. Hal ini perlu supaya droplet nggak langsung menempel di badan.

Pakai glove juga jangan disepelekan. “Kalau biasanya buru-buru buka glove, saking kebelet pipis atau udah lapar banget, hingga lapisan dalam jadi kebalik jadi di luar. hehehe. sekarang biasain aja buka glove dengan baik, sisi luar harus tetap di luar agar dalamnya tetap bersih. Taruh glove ngegantung di sepeda, jangan di bawa makan minum bareng kita. Rumusnya, buka glove cuci tangan, buka glove cuci tangan, repeat tiap gowes, baru nyomot tahu atau mendoan,” hehehe siap dok.

4. ROUTE

Pemilihan rute gowes

Pilih rute yang sepi. Jangan lagi blusukan ke pasar.
Sekarang ini pilih rute yang sepi yang aman dan nyaman,
Jangan gowes lama-lama di zona merah, kita kan gak boleh ndatangin bahaya ya

 

5. TIMING

Pemilihan waktu

Enaknya habis subuh sampai setengah 7. “Kalau terlalu siang crowded banget udah berjibaku dengan pemotor atau lain-lain.

“Sarannya pagi lah di saat orang-orang blm pd keluar, ke sentul boleh ya, masalah ke sentul kita ke jakarta kan naik mobil berarti mesti pagi banget, nyampe jam 8 itu di Sentul sendiri masih enak, kl ada tempat-tempat seperti itu enak, tapi kan gak banyak tempat seperti itu. Jangan gowes ke pasar seperti tanah abang. Jangan terlalu lama gowesnya sekarang, kita harus jaga imunitas, kalau terlalu lama justru menurunkan imunitas bukan jadi sehat, harus 30-45 menit sudah cukup untuk saat ini, jangan sampai imunitas kita turun karena kelelahan,” ujarnya.

Amankah Penggunaan Masker Saat Berolahraga?

Hari Sepeda Dunia, Ini 5 Alasan Kuat untuk Bersepeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: